Arsip Kategori: Motivasi

Bungah ati

KECUKUPAN HATI

Biaya yang Anda keluarkan dalam hidup ini semata-mata untuk membiayai rasa Anda. Saya seringkali mengeluarkan biaya ratusan ribu di mall hanya untuk mencukupi kebutuhan rasa bahagia saya melihat anak bermain di arena. Anda mengeluarkan biaya puluhan hingga ratusan juta hanya untuk memenuhi rasa religius Anda, untuk haji dan umrah, untuk biaya sekaten, untuk biaya ngaben seperti di Bali, dan lain-lain. Hanya untuk rasa rileks, Anda sering mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga jutaan guna tamasya. Hanya untuk rasa komunikatif, Anda mengeluarkan ratusan ribu tiap bulan untuk beli pulsa internet.

Semua dipicu oleh rasa, sehingga Anda mengeluarkan biaya dalam hidup ini semata-mata untuk membiayai rasa Anda. Ayam tidak punya rasa yang macam-macam, dia pun cukup dengan apa yang disediakan alam dalam kesederhanaan, ayam cukup memungut serakan nasi sisa Anda, kandang cukup mengambil sebatang bambu untuk tempat bertuduhnya, bahkan kawin pun dengan biaya sebutir nasi pungutan yang dicarikan oleh si ayam jantan. Biaya hidupnya sederhana.

Karena keluarnya biaya hidup pemicunya rasa di dalam, maka masalah kecukupan biaya hidup bukan masalah di luar, tetapi masalah di dalam diri.

Dulu di pesantren, kamar asrama saya cuma berukuran ± 3×3 meter persegi dihuni lebih dari 20 anak. Tidur disitu, melipat baju di situ, belajar di situ, ngobrol di situ, bahkan makan kadang juga di situ, dan cukup. WC antri, mandi antri, makan antri, jemuran baju antri, tidur beralas sajadah. Fasilitas pesantren jelas jauh lebih buruk dari fasilitas penjara. Di penjara, kasur ada, WC terjamin, kualitas kesehatan lebih baik. Tetapi kenapa banyak orang tua bermimpi anaknya berada di pesantren? Dan tidak ada yang bermimpi anaknya di penjara?

Sekali waktu ketika macet, Anda marah dan jengkel, namun sekali waktu Anda sedang di jalan, ada karnaval budaya, kenapa Anda justru menikmati, malah enjoy nonton? Padahal kasusnya sama “perjalanan Anda terhambat”.

Di pesantren bisa mengakses rasa “cukup berada di sini”, di penjara Anda gagal mengakses rasa cukup. Terhambat jalan karena karnaval budaya, Anda bisa merasa ” saya cukup berada di sini”, ketika macet Anda tidak bisa merasa “cukup berada di sini”.

Yang seperti hal di atas itulah disebut kecukupan hati. Hatinya cukup untuk menghadapi realitas.

Saya pernah mengunggah Dongeng Kecukupan Hati, “Seorang anak yang baik dan jujur menarik perhatian dewa untuk memberikan hadiah. Lalu dewa menjelma ke bentuk manusia untuk memberikan tiga permintaan kepada anak tersebut.

Walau ragu-ragu, anak itu mengajukan permintaan yang pertama, dia meminta dewa itu mengubah batu menjadi emas, karena sudah bosan jadi orang miskin. Dewa itu menunjuk batu yang dimaksud dengan jarinya, seketika berubah jadi emas.

Untuk permintaan kedua, anak itu meminta bukit yang di depannya menjadi emas. Permintaan dipenuhi dan langsung terwujud. Girang tentunya.

Timbullah keinginan yang lebih. Keserakahan menjalar. Bagaimana kalau memiliki saja jari sakti kepunyaan dewa? Itulah permintaannya yang ketiga.

Dalam sekejap dewa menghilang. Batu dan bukit yang sudah berubah jadi emas kembali ke bentuknya yang semula.”

Jadi salah satu cara menghilangkan kekayaan dengan tidak berkecukupan hati. Anda banyak kehilangan keberlimpahan dan kebahagiaan sebenarnya pemicunya di masalah rasa cukup. Bagaimana rezeki akan beres, merasa cukup untuk bisa menerima suami atau istri sebagai pasangan Anda sering kesusahan. Istri buatkan teh kurang manis, Anda jengkel. Tidak sreg dengan suami gara-gara suami suka fasbook-an, Anda langsung ngambek ngembek-ngembek. Antri bensin, Anda menggerutu. Anak rewel, Anda murka. Kerjaan pembantu kurang rapi, Anda ngomel-ngomel. Ditolak cinta, Anda mendendam hebat. Ada issu politik panas, Anda terdepan mencaci maki. Ada issu agama memanas, Anda geram dan main caci maki. Meraaa terlalu boros duit, tegang. Merasa rezeki sedang seret, tegang. Terlalu banyak hidup kita dimana kita tidak sanggup mencukupkan hati kita.

Semua realitas kehidupan yang Anda menghadapinya dengan tegang, saklek, kaget, emosional, seluruhnya disebabkan ketidakcukupan hati.

Kalau hidup keseharian masih seperti itu, di dimensi rezeki, Anda masih ruwet. Sebabnya apa, rasa cukup di dalam hati masih minimalis. Sebagaimana Dongeng Kecukupan Hati di atas, makin hati tidak bisa menerima apa yang sedang ada di saat ini, maka hati makin serakah. Ketika telah serakah, seluruh kekayaan langit dan bumi diberikan kepada seorang diri Anda, masih kurang. Kalau rasa hati terus kurang itulah kemiskinan nyata.

Rasa cukup ada di sini, itulah resep Ibrahim A.S. dibakar tidak hangus, dan resep Muhammad S.A.W. memenangkan Perang Badar. Rasa kecukupan hati dalam spiritual Islam diwakili oleh zikir “hasbunā-llāh wa ni’mal wakīl”.

Zikir ini merupakan zikir yang dipakai Ibrahim A.S. dan Nabi S.A.W. Rasa cukup hati dari Ibrahim A.S. saat hendak dilempar ke alun-akun api, sehingga ketika Jibril A.S. menawarinya bantuan, Ibrahim menolak, dia merasa cukup dalam keadaan itu, sambil terus berzikir, “Hasbunā-llāh wa ni’mal wakīl”, hasilnya dibakar tidak hangus.

Nabi Muhammad S.A.W. ketika hanya dengan pasukan muslim 300 orang harus menghadapi 1000 pasukan Quraisy, belaiu mengakses rasa kecukupan hati dengan menyebut-nyebut hasbunā-llāh wa ni’mal wakīl, hasilnya beliau menang perang.

Allah S.W.T menceritakan mengenai kejadian rasa kecukupan hati Nabi S.A.W. dalam Perang Badar dan sahabatnya dalam firman-Nya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (Q.S. ‘Alī Imrān : 173)

Sahabat Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa zikir hasbunā-llāh wa ni’mal wakīl” adalah perkataan Nabi Ibrahim A.S. ketika beliau hendak dilempar ke api. Sedangkan Nabi S.A.W. mengatakan kalimat tersebut dalam ayat, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (H.R. Bukhāri. No. 4563)

Sehingga apa sih yang jadikan kita lemah, tidak berlimpah di berbagai sisi? Jawabnya kita kurang mengakses rasa kecukupan hati, rasa menerima berada di sini. Karena rasa kecukupan hati, api saja bisa dingin, dan seribu pasukan kalah oleh hanya 300 pasukan.

Lalu bagaimana cara mengakses rasa kecukupan hati? Caranya sesuai yang disarankan Nabi S.A.W yakni amati dan renungi nasib orang yang ada di bawah Anda. Setelah mengamatinya lalu lihat keunggulan kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada Anda, anugerah unggul di sisi apa saja.

Lihat mendalam anugerah itu lantas tersenyumlah pada-Nya sambil berucap syukur yang dalam.

motivasi

CARI BANGKRUT BERTAMBAH KAYA

Anda amati, kemanapun lalat terbang yang ia temukan kotoran, dan kemanapun lebah terbang yang ia temukan kuntum bunga. Kedua makhluk ini hanya temukan apa yang mereka sadari.

Dan Anda semuanya seperti itu, hidup di dunia ini hanya temukan apa yang Anda sadari.

Kalau Anda temukan kemiskinan, sebenarnya rasa miskin yang Anda sadari. Kalau Anda kaya, maka rasa kaya yang Anda sadari, sebab lalat dan lebah saja hanya temukan apa yang mereka sadari.

Saya pernah cerita, ketika Anda mau jadi orang kaya, yang diubah oleh-Nya itu hanya kesadaran Anda, rasa di dalam hati Anda. Diubah dari rasa miskin menjadi punya rasa kaya. Itu saja.

Dulu waktu saya miskin kerja saya lebih keras ketimbang sekarang. Kesibukkan juga mungkin lebih padat dulu sewaktu miskin. Anehnya, lah kok sekarang lebih nyantai malah lebih punya duit?

Ternyata karena dulu yang saya sadari dalam hidup saya adalah rasa miskin, dan ketika saya akan dirubah keadaan finansialnya, yang berubah cuma sadarnya saja, sekarang saya menyadari kalau diri saya kaya.

Misal, dulu waktu miskin, saya melihat pengeluaran finansial sebagai beban, yang bila menyapa hidup saya, itu berarti penderitaan, pengurangan isi dompet, dan lain-lain. Karena terdorong rasa miskin, jadinya saya main efesien, sedikit pengeluaran finansial bagi saya adalah kekayaan.

Sekarang jadi berubah mind sett+nya, dulu pengeluaran finansial jadi beban, sekarang malahan jadi kebanggan. Karena terpacu rasa kaya, saya sadar sepenuhnya mengeluarkan uang itu justru kekayaan. Sebab realita di mana-mana orang kaya jelas orang yang pengeluarannya besar. Orang kaya belinya saja tanah, rumah, mobil, emas, mereka besar pengeluarannya.

Sehingga dari miskin menjadi kaya cuma berubah sadarnya saja, rasa hatinya yang berganti dari rasa miskin menjadi rasa kaya.

Sederhana miskin jadi kaya cuma mengganti rasa saja? Seolah-olah begitu Anda baca artikel ini, Anda bisa mengubahnya?

Nanti dulu!

Kalau Anda punya rasa cinta pada A, bisakah Anda mengganti rasa hatinya jadi benci dalam hitungan detik? Tidak. Dari cinta menjadi benci butuh proses lama.

Kadang sudah jelas-jelas telah menikah dengan yang lain sampai punya 5 anak, rasa cinta pada mantan pacar di masa lalu juga belum kendur.

Sebaliknya pula, Anda yang benci pada seseorang, tidak bisa begitu saja berganti rasa cinta sekalipun sudah didalili ratusan firman Tuhan. Butuh waktu dan proses untuk mengubah rasa benci jadi cinta.

Begitu pula rasa miskin berubah jadi rasa kaya, butuh proses lama, tidak bisa begitu saja berubah.

Melalui serangkaian perjuangan hidup, jatuh-bangun, konsistensi, jerih-payah, tekad, sabar, dan proses-proses lainnya, rasa kaya itu baru bisa didapatkan di hati.

Nah sesudah rasa kaya ter-update pada kesadaran Anda, baru segala hal bisa konyol kejadiannya. Bisa jadi Anda hambur-hamburkan uang, malah Anda makin dikayakan, sebab rasa kaya Anda yang memanggilnya.

Saya ambil contoh kisah Abdurrahman bin Auf yang dulu sekali pernah saya posting.

Kisahnya ketika Rasulullah S.A.W menyetempel Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling akhir masuk surga di antara 10 sahabat Nabi S.A.W yang lain. Abdurrahman bin Auf terlalu kaya, sehingga proses hisabnya lama, surganya pun jadi paling akhir.

Mendengar ini, Abdurrahman bin Auf berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal.

Setelah perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan para sahabat membusuk di pohonnya karena tidak sempat memanen sebab ditinggal mengikuti perang Tabuk.

Abdurrahman bin Auf yang ingin miskin menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.

Semuanya bersyukur. Kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba ludes diborong Abdurrahman bin Auf. Para Sahabat Nabi gembira, Abdurrahman bin Auf gembira juga, sebab berharap jatuh miskin.

Di luar prediksi Abdurrahman bin Auf, tiba-tiba datang utusan dari Yaman membawa berita. Raja Yaman mencari kurma busuk. Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah kurma busuk. Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Bego kan? Jelas-jelas Abdurrahman bin Auf bertindak cari bangkrut, tapi malah menjadi rezeki besar. Itu disebabkan rasa kaya di dalam hati Abdurrahman bin Auf yang memanggilnya.

Sebaliknya, sekalipun bertindak cari untung, tapi dengan rasa miskin di dalam hati, tindakan cari untung bisa memanggil kebangkrutan. Misal, sudah merencana dengan cerdas akan buka bisnis A dengan tekad modal hutang bank. Bisnis A ini akan membuka keuntungan besar. Eeh dijalani bisnisnya yang lancar tanggungan hutangnya saja, bisnisnya malahan bubar gulung tikar.

Segala yang Anda temukan di kehidupan ini adalah wujud rasa hati Anda, maka ini lebah selalu temukan kuntum bunga, lalat selalu temukan kotoran. Apa yang Anda sadari dalam rasa hati, itu yang Anda temukan. Maka ini kaya harta itu tidak ada, yang ada hanyalah kaya hati.

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah S.A.W bersabda padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati, sedangkan fakir adalah fakirnya hati.” (H.R. Ibnu Hibban)

Kembali ke kisah Abdurrahman bin Auf yang ketakutan hisab lama dan telat masuk surga ini sering menjadi halusinasi akhirat bagi orang-orang yang puas miskin. Sebab ini next artikel saya besok, akan saya tuliskan “Miskin yang Masuk Surga”. Insyâ-llâh.

Dan saya percaya, rasa nyaman Anda pada kemiskinan makin terkoyak-koyak kalau besok Anda baca artikel tersebut. Anda tak sanggup lagi memilihnya.[]